Sudah menjadi
takdir Allah SWT menciptakan semua yang ada didunia ini berpasang-pasangan: ada siang ada malam, ada pria ada wanita, ada kecil ada besar, ada langit ada bumi,
ada sukses ada gagal dan ada miskin ada kaya. Kita hanyalah seorang aktor yang memerankan skenario itu dari
Allah SWT untuk kita perankan sebaik dan sebagus mungkin dengan tujuan
mencari keidloanNya atau dengan kata lain hanya
ikhlas kepada Allah SWT.
Kembali ke ayat di atas :: bahwa
musibah diambil dari bahasa arab yang artinya sesuatu yang menimpa diri kita, yang biasanya berkonotasi negatif seperti kehilangan keluarga karena meninggal, musibah banjir, musibah gempa, musibah kemalingan, kecopetan, kegagalan dll.
Namun sebagian dari kita justru hanya melihat dari sisi negatifnya saja, yaitu bahwa musibah hanyalah berupa penderitaan, kesengsaraan, kemiskinan dan kehilangan, padahal sesungguhnya musibah juga terdapat pada seseorang yang berada dalam kenikmatan, kelebihan, kekayaan, jabatan, kedudukan, kelimpahan, kecukupan dsb. Banyak dari kita lulus ujian ketika
Allah menguji kita dengan berbagai penderitaan, musibah dan kesengsaraan. Kita tak henti-hentinya mengucapkan
Allah dan
Innalillah Wainnailaihi Rooji'uun dimanapun kita berada, tak pernah lupa sholat, dan bahkan mengerjakan sholat tahajjud, dhuha sampai puasapun dijalaninya dengan
sabar dan ringan.
Namun setelah semua diganti oleh
Allah dengan kenikmatan, kelapangan, kemudahan, dan kekayaan, maka tak terucap sepatah katapun dari kita kata “
Innalillah wainna ilahi roojiuun”, yang ada malah kambuhnya sifat asli manusia yang seperti sye*** yaitu lupa diri, kemaruk, gila jabatan, merendahkan orang lain dan melupakan Allah SWT. Apa yang sebelumnya kita kerjakan
semata-mata karena Allah berubah 180% , sekarang::tidak ada lagi sholat, shodaqoh seperti dulu apalagi berpuasa karena sekarang sudah sibuk menghitung-hitung harta, menghitung-hitung peluang dan menghitung-hitung keuntungan. Semua keberhasilan kita klaim karena kejeniusan kita, karena kehebatan kita dan karena pengalaman kita dan bukan karena yang lain, apalagi
Allah. Sombong, congkak, kemaki dan angkuh adalah hal yang menurut kita lumrah dan wajar dan dengan bangga kita menyebarkan sifat arogan itu ke segala tempat dan penjuru dunia. Pada kenyataannya, memang, hanya sedikit dari kita yang ingat
kepada Allah pada saat kelimpahan nikmat dan rejeki, apalagi meneladani salah satu sahabat nabi yang mengucapkan
Innalillah wainnailahi rooji'uun pada saat mendapatkan kedudukan yaitu ditunjuk menjadi Amiirul Mu’minin atau kholifah (istilah jaman sekarang : presiden).
Kembalilah kepada Allah SWT sebelum semuanya terlambat dan
bersyukurlah selama masih diberi kesempatan. Tidak ada yang kekal di dunia ini karena semua hanya titipan dari
Allah. Harta kita sesungguhnya adalah shodaqoh yang kita keluarkan dengan ikhlas, ilmu kita yang sesungguhnya adalah ilmu yang kita ajarkan dengan ikhlas, dan pahala kita adalah kebaikan yang kita tunaikan karena
Ridho Allah SWT. Mudah-mudah siapa saja yang menjadi pemimpin negeri ini menganggap bahwa jabatan yang ia sandang sesungguhnya cobaan berat yang harus ia pertanggunjawabkan
di hadapan Allah SWT di hari pembalasan.
Maka ucapkanlah wahai calon presidenku..."
Innalillahi wa innailaihi rooji'uun" pada saat anda mendapatkan nikmat dan karunianya agar tidak lupa kepada siapa seharusnya anda bersyukur.
zams--Sukses
Bisnis Internet
Stop dreaming Start Action
10